- sweEt ola -
Senin, 29 Agustus 2011
" Happy B'day To Me "
16 Mei 1980… Memulai tarikan nafasku yang pertama sebagai seorang pribadi. Aku memulainya dalam tubuh bayi mungil yang hanya bisa bernafas, tidur, bangun, tertawa, menangis dan rewel saat diriku merasa tak nyaman. Aku, si bayi mungil hidup hanya untuk menuntut dan menerima segala macam bentuk pelayanan dari orang tua dan keluarga. Hal ini terus berulang pada tahun-tahun pertama kehidupanku.
Sampai akhirnya aku tiba pada masa itu. Masa dimana diriku sudah cukup besar untuk mengerti bahwa hidup bukan hanya sebatas menuntut dan menerima.
Perlahan tapi pasti, dengan langkahku yang masih pendek di usia belia, aku memasuki kehidupan yang sebenarnya. Dalam memoriku yang belum terbentuk dengan sempurna, dan dalam pengertianku yang masih minim, mataku mulai terbuka. Aku mulai menatap wajah kehidupan dalam berbagai rupa. Aku mulai sadar bukan hanya aku yang bisa menuntut kehidupan, tapi kehidupan juga bisa menuntutku. Aku mulai paham kalau aku masih akan terus menerima, namun dalam bentuk yang lain. Aku yang semasa bayi hanya menerima dan menikmati kesenangan. Tapi aku yang mulai besar akan menerima banyak hal, termasuk yang tidak aku sukai.
Semakin besar dan dewasa, semakin aku terkejut dengan wajah kehidupan. Terkadang mataku menatap kehidupan lantas tersenyum dan tertawa. Namun mataku juga sering terpejam dan menangis di kala wajah kehidupan begitu menyedihkan. Aku bersorak gembira saat mengalahkan kehidupan yang menantang. Tapi akupun meratap saat kehidupan mengalahkanku dengan telak.
Kata orang, hidup itu tidak mudah. Aku tahu itu.
Kata orang, setiap ulang tahun dan bertambah umur itu tidak enak karena stress harus menjadi tua dan dewasa. Aku tidak setuju dengan itu.
Aku telah melalui setiap proses itu selama 29 tahun ini, dan bisa kukatakan kalau aku menyukainya.
Aku menyukai dan menikmati setiap tahun kala umurku bertambah. Meski itu artinya akan mulai ada garis-garis halus di wajahku, dan akan ada lebih banyak tuntutan kehidupan yang harus aku jawab.
Hari ini 16 Mei 2010… Aku berdiri pada gerbang umurku yang ke 30. Aku bersyukur pada Tuhan untuk berkat ini. Dan kukatakan sekali lagi kalau aku menyukainya.
Setelah gerbang ini masih ada jalan panjang yang harus ku lewati, dan akan ada banyak pintu di dalam sana. Mungkin itu adalah pintu yang sudah pernah aku temui. Tapi mungkin juga belum. Aku tahu akan ada ombak kehidupan di dalam sana. Ombak kehidupan yang bisa menghimpit dan menghempaskan aku dengan keras. Namun setelah ombak itu mereda, aku percaya bisa menemukan banyak hal indah dalam buih-buihnya.
Hal yang pasti adalah…
Aku menjadi tua tanpa perasaan tua.
Aku menjadi dewasa bukan karna umur yang bertambah atau karena hidup yang memaksaku. Aku menjadi dewasa karena aku menginginkannya. Aku menjadi dewasa tanpa merasa rumit, karena aku menjalani kedewasaan tanpa meninggalkan sisi kanak-kanak yang aku punya.
Happy b’day to me…
Happy b’day to me…
Happy b’day dear Ola…
Happy b’day to me…
Papi, Mami, Adik Ken, Adik Anan.....
My best friends, anak2 $U :
- Athen
- Lala
- Ran
- Zaza
- Didy
- Fafa
- Van2
- Chen
And You…(someone yg psti akan dtg..xixixi..)
Kalian adalah wajah-wajah indah kehidupan yang selalu dapat kutemukan dalam buih-buih ombak yang mereda.
Jakarta, 16 Mei 2010
00.30 WIB
Jumat, 08 Januari 2010
" Untitled "
Mengenalmu sesaat dan berlalu tanpa rasa. Hanya sekedar sapa yang mengisi ruang kita, kosong tanpa makna.
Namun, malam demi malam yang kita lewati dalam lingkar maya bagai memutus jarak itu. Dan romansa palsu pun menebar aromanya yang pekat, yang tajam menusuk dalam kelembutan.
Aku terlena. Aku mabuk dan tak sadarkan diri.
Romansa palsu. Benarkah itu? Aku tidak tahu. Aku bingung.
Semua akal sehatku berceceran karena aku terlalu mabuk.
Aku meraba dalam bimbang mencari jawabnya.
Kau yang di sana.
Kau yang ada bersamaku melewati malam demi malam, menghirup tiap jengkal aroma romansa dalam lingkar maya.
Adakah jawabmu atas tanyaku?
Namun, malam demi malam yang kita lewati dalam lingkar maya bagai memutus jarak itu. Dan romansa palsu pun menebar aromanya yang pekat, yang tajam menusuk dalam kelembutan.
Aku terlena. Aku mabuk dan tak sadarkan diri.
Romansa palsu. Benarkah itu? Aku tidak tahu. Aku bingung.
Semua akal sehatku berceceran karena aku terlalu mabuk.
Aku meraba dalam bimbang mencari jawabnya.
Kau yang di sana.
Kau yang ada bersamaku melewati malam demi malam, menghirup tiap jengkal aroma romansa dalam lingkar maya.
Adakah jawabmu atas tanyaku?
( 8 Januari '10 )
" Karena... "
“ Ola, kenapa lu nggak coba jadi penulis aja sih? “
Bukan pertama kali gue dengar pertanyaan seperti itu. Sejak masih sekolah pun gue sudah mendengar pertanyaan yang sama.
Gue pribadi sadar kalau gue cukup mampu untuk menulis. Hanya saja masih banyak hal yang jadi pertimbangan gue.
Buat gue menulis itu nggak bisa hanya asal jadi. Makanya gue termasuk orang yang jarang sekali posting tulisan. Bahkan blog yang gue punya nyaris kosong melompong.
Gue ingin tulisan yang lahir dari kepala dan hati gue memiliki rasa yang kuat dan jelas, serta mengalir dalam penulisan yang benar. Gue menyukai tulisan yang bagus dalam segala hal, baik isi maupun tata cara penulisannya.
Mungkin gue orang yang terlalu keras dalam soal penulisan yang benar. Gue bisa langsung gregetan saat membaca tulisan yang ejaannya salah, kurang huruf atau yang lebih parah lagi nggak ada tanda baca. Aaarrrgghhh…itu membuat gue emosi jiwa sangat!
Entah bagaimana tanggapan orang-orang yang membaca tulisan gue. Yang jelas gue masih terus belajar dan belajar lewat beberapa tulisan pendek, dan juga tulisan lama yang coba gue posting kembali.
Sungguh, gue merasa tulisan-tulisan itu masih terlalu amatir. Dan gue pun masih terlalu prematur untuk bisa menjadi penulis.
Jumat, 01 Januari 2010
" Dilema "
Lebih dari 20 tahun menjadi bagian hidupmu...
Banyak hal yang kita alami...
Banyak hal yang kita bagi bersama...
Tapi sekarang dirimu menjauh...
Katamu hanya ingin menikmati kebebasan.
Tapi kebebasan seperti apa?
Bukankah aku tak pernah melarangmu? Bukankah aku tak pernah banyak protes atas semua yang kamu lakukan dalam hidupmu?
Jangan pernah berpikir semua nasihat dan omelan yang terlontar sebagai cacian yang membuatmu tak lagi istimewa...
Karena sampai kapanpun dirimu akan tetap istimewa, sungguh sangat istimewa.
Aku hanya berharap kebebasan yang kamu nikmati tidak menyakiti orang lain. Orang-orang yang selalu menyayangimu...orang-orang yang selalu mengharapkan hal terbaik untukmu...
Karena sungguh, kebebasan yang kali ini kamu pilih menghadirkan sedikit kecewa dalam hati. Bahkan aku tak pernah merasakan kekecewaan seperti ini di saat dulu kamu terjatuh dalam pergaulan yang salah...
Tolong mengertilah sedikit asa dari orang yang mencintaimu sepenuh hati.
Tolong mengertilah sedikit asa dari orang yang mencintaimu sepenuh hati.
( 28 Desember '09 )
Kamis, 31 Desember 2009
" For My $U "
Hari hampir pagi dan gue masih saja di sini, di depan laptop kesayangan gue tanpa berbuat apa2. Hanya menatap layar yang kosong dengan bingung…
Ada apa dengan gue sih…???
Perasaan gue sedang kesal, marah, kecewa, sedih. Pokoknya semua rasa yang jelek dan negative sekarang ini ada sama gue…
Gue ingin melepas semua rasa itu dalam tulisan, tapi kenapa rasanya begitu berat? Otak gue serasa buntu…(>_<)
Uuh…gue nggak suka keadaan ini!!!
Semua aura negative ini telah menyumbat tiap saluran dalam otak gue. Bahkan untuk sekedar menangis karena kesal pun nggak bisa gue lakuin sekarang!!!
$U…begitu sulitkah kita kumpul bersama walau hanya sebentar saja?
$U…seberat itukah melenturkan sedikit saja waktu untuk berjumpa?
( 23 Oktober '09 )
Rabu, 30 Desember 2009
" Sang Perempuan Yang Terluka "
Setelah sekian bulan terlewati, malam ini perempuan itu menyadari dengan utuh bahwa dia masih terluka. Ya, dia adalah perempuan yang terluka…
Tubuhnya mematung. Jari jemari yang tadinya lincah bergerak di atas keyboard kini diam dan kaku. Bibirnya mengatup kelu, dan matanya… Mata yang bulat itu saat ini tak lagi bercahaya, mata itu hanya menatap lurus kearah monitor, memandang dengan nanar rangkaian foto seorang perempuan lain yang bertebaran disana.
Segala hal berkecamuk dalam hati dan otaknya. Kecewa, sedih, sakit hati dan juga marah datang silih berganti. Sang perempuan merasa hatinya kembali terluka dengan sangat dalam. Tapi benarkah dia terluka lagi, atau sebenarnya luka itu memang tidak pernah sembuh? Luka hati karena sang lelaki masih tetap ada disana dengan darah yang terus mengalir.
Sang perempuan melewati sekian bulan dengan mimpi bahwa dirinya baik-baik saja. Dia merasa sanggup menjalani semua dengan sempurna setelah berpisah dari sang lelaki. Semua memang terlihat cukup sempurna karena banyak lelaki lain yang telah dikenalnya. Hingga akhirnya malam ini semua mimpi itu hancur di depan matanya sendiri.
Semua bermula ketika sang perempuan sedang menikmati malam dengan membuka salah satu situs pertemanan. Entah apa yang ada dalam otak dan hatinya hingga jari jemari lincah itu mulai mengetik alamat account dari sang lelaki.
Awalnya sang perempuan hanya penasaran ingin melihat perubahan pada profile sang lelaki dari masa lalunya itu. Namun sang perempuan tidak menyangka rasa penasaran itu menghantamnya dengan keras, karena dirinya belum benar-benar siap dengan perubahan ini.
Perempuan lain… Telah ada perempuan lain dalam hidup sang lelaki. Rangkaian foto perempuan lain itu menjadi bukti bahwa sang lelaki benar-benar telah melupakannya. Sang lelaki telah benar-benar pergi memulai kehidupannya yang baru tanpa mengingat sedikitpun kisah tentang diri sang perempuan.
Apa salah sang perempuan hingga sang lelaki pergi dari hidupnya? Apa yang kurang dalam diri sang perempuan hingga sang lelaki melupakannya begitu saja?
Apa karena perempuan lain itu terlihat lebih dewasa secara fisik? Atau karena perempuan lain itu terlihat lebih kaya?
Lantas bagaimana dengan sang perempuan? Memang sang perempuan bukanlah orang kaya namun dirinya cukup dewasa.
Apa sang lelaki lupa bagaimana sang perempuan menerima dengan dewasa kenyataan bahwa sang lelaki adalah seorang duda dengan satu anak? Justru sang lelaki yang menutupi kenyataan itu dengan berbohong, mengatakan bahwa anak perempuan kecil itu adalah keponakannya.
Setelah semua rahasia terungkap, lupakah sang lelaki bagaimana sang perempuan menjadi bagian hidupnya yang tersembunyi? Sang perempuan selalu ada di balik punggung sang lelaki, menopangnya melewati masa-masa sulit ketika anak sakit dan tak punya susu, ketika pekerjaan sang lelaki mengalami kendala, bahkan ketika ayah sang lelaki mengalami sakit.
Semuanya telah diserahkan sang perempuan dengan utuh kepada sang lelaki. Namun kini sang lelaki telah pergi menjemput kehidupannya yang baru. Tinggallah sang perempuan meratap dalam diam. Tak ada suara yang keluar, hanya air mata yang mengalir tanpa henti.
Pada akhirnya, sang perempuan meninggalkan pesan perpisahan. Sang perempuan menyadari dengan dirinya yang utuh bahwa hidupnya harus tetap berjalan. Dia harus memulai kehidupannya sendiri seperti sang lelaki telah memulainya. Sang perempuan tak ingin mengingat apapun lagi tentang masa lalunya bersama sang lelaki.
Malam ini sang perempuan akan meratapi semua yang pernah ada diantara mereka. Namun esok adalah hidup baru bagi sang perempuan…
( 15 Januari '09 )
Rabu, 24 Juni 2009
Resmi = Nggak Cocok.......^o^;
Ini kejadian kemarin siang pas gue berangkat kerja.
Seperti biasa gue jalan ke ujung gang buat nunggu angkot. Nah, di jalan itu gue papasan dengan 2 anak SD yang baru pulang. Dari jarak beberapa meter gue dengar obrolan mereka. Entah apa yang jadi topik pasti mereka, tapi yang jelas ada hubungan dengan pacaran...^o^
Gue dengar si Gendut bilang..."dia kan blum RESMI jadi pacar si itu."
Lantas dengan polosnya si Kecil bertanya..."RESMI apaan sih?"
Kemudian dengan sok tahu si Gendut menjawab..."RESMI itu nggak COCOK!"
Langganan:
Entri (Atom)